Saritem Bandung

Saritem, adalah nama sebuah gang legendaris di Kelurahan Kebon Jeruk, Bandung, yang jadi rumah bagi Pondok Pesantren Darut Taubah dan para PSK. Meski hadir layaknya dua kutub, baik santri maupun PSK nyatanya telah hidup damai berdampingan selama hampir dua dekade.
Konon, lokalisasi Saritem telah berdiri sejak zaman kolonial Belanda sekitar akhir tahun 1.800. Dalam Wajah Bandoeng Tempo Doeloe, Haryoto Kunto menjelaskan jika julukan “Kota Kembang” bukan berarti “bunga” secara harfiah, melainkan berasal dari kata “kembang dayang” yang berarti perempuan tunasusila.
Pada tahun 1896 silam, Bandung pernah diberikan kepercayaan untuk menggelar gelaran besar Kongres Perkumpulan Pengusaha Perkebunan Gula yang berkedudukan di Surabaya. Dalam gelaran tersebut, turut dihadirkan perempuan penghibur berparas Indo Belanda yang berasal dari perkebunan kina di Pasirmalang.
Sejak saat itu, para Belanda memberikan julukan Bandung sebagai “De Bloem Der Indische Bergstede” yang berarti “Bunga dari Pegunungan Hindia Belanda”. Sebuah julukan yang kemudian menjadi latar belakang sebutan Kota Kembang.
Kembali ke Saritem di zaman kiwari.
Tahun 2007 lalu, Wali Kota Bandung ketika itu, Dada Rosada, resmi menutup Saritem sebagai lokalisasi prostitusi. Namun, geliat prostitusi tidak tertahan dan Saritem kembali semarak.
Begitu juga pada tahun 2015. Razia besar yang dilakukan Polrestabes Bandung berhasil menjaring ratusan PSK. Sejumlah PSK direhabilitasi hingga dikembalikan ke kampung halaman. Namun, bisa ditebak, tak berselang lama kemudian, aktivitas esek-esek di Saritem kembali berdenyut.
Wajar, sebab bukan hanya PSK yang menggantungkan diri dari bisnis prostitusi. Tidak dapat dipungkiri bahwa budaya ekonomi yang bersumber dari aspek prostitusi telah berlangsung lama di Saritem. 
Kepada ayokpiknik pada Sabtu (13/1/2018), beberapa pedagang di kawasan Saritem dan Kebon Jeruk mengaku mengalami penurunan omset penjualan ketika lokalisasi tersebut ditutup serta tidak melakukan aktivitas seperti biasanya. Artinya, penertiban dan penutupan bukan persoalan mudah yang dapat diselesaikan sekejap mata. 
"Kalau ditutup memang jadi lebih nyaman. Jadi tertib. Tapi risikonya omset dagangan turun lumayan banyak."
-- Arief Wardi, salah seorang pedagang di kawasan Kebon Jeruk.
Padahal, menurut data Kementerian Sosial Indonesia, selama tahun 2013 hingga 2017, pemerintah telah menutup sebanyak 118 lokalisasi prostitusi dan memulangkan lebih dari 20.000 PSK ke daerah asalnya. 
Saat ini tersisa sekitar 41 lokalisasi yang masih aktif melakukan kegiatan prostitusi. Penutupan kawasan tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk menjadikan Indonesia bebas lokalisasi prostitusi di tahun 2019. Pemerintah memberikan bantuan usaha ekonomi produktif senilai Rp5 juta untuk setiap mantan PSK.
Apakah efektif? Tergantung. Soalnya, lagi-lagi, permasalahan atas ekspektasi ekonomi dipercaya sebagai salah satu alasan yang membuat geliat wisata tubuh di Saritem sulit untuk diredam.
Beberapa kali Dinas Sosial Kota Bandung melakukan rehabilitasi kepada sejumlah PSK di Saritem. Tidak sedikit dari PSK memilih kembali terjun ke lubang hitam prostitusi walau telah mendapatkan rehabilitasi dan pekerjaan baru.
"Kami pernah merehabilitasi tiga orang PSK dan kemudian ditempatkan bekerja di sebuah yayasan. Mereka mendapatkan gaji Rp5 juta per bulan. Tapi kata mereka, (pendapatan tersebut) tidak cukup dan akhirnya kembali lagi jadi PSK," ujar Kepala Unit Pelaksana Teknis Pusat Kesejahteraan Sosial (Puskesos) Kota Bandung, Handiyan kepada ayobandung, Senin (15/1/2018).
Alasan kembalinya PSK ke jurang prostitusi bukan hanya disebabkan oleh faktor ekonomi semata. Adanya sikap penolakan dari masyarakat di lingkungan sosial ternyata memegang peranan krusial. Hal tersebut membuat PSK merasa tidak nyaman dan rendah diri sehingga memilih untuk kembali.  
"Hukum pidana hanya memberlakukan waktu dengan batas tertentu. Tapi hukuman sosial dapat mengakibatkan stigma yang melekat seumur hidup," kata Handiyan.
ayokpiknik berkesempatan untuk datang langsung ke lokalisasi Saritem dan menyusuri gang sempit penyedia PSK. Ada pemandangan yang berbeda dari sebelumnya. Kini Saritem terlihat lebih tertib dan normal seperti gang pada umumnya. Tidak lagi terlihat PSK yang berada di luar ruangan.
Di depan gang hanya terlihat para calo pria yang memiliki peran layaknya tenaga pemasar serta menjadi penghubung antara pelanggan dengan mucikari. Sekilas tidak ada perbedaan antara calo dengan warga biasa. Dia bisa menjelma seperti pedagang atau petugas keamanan. Hanya diam mengamati, tapi akan menghampiri ketika ada pria yang terlihat membutuhkan kencan singkat satu malam.
"Sekarang Saritem lebih tertib. Calo pria berjaga di depan gang. Kalau mamihnya menunggu di dalam gang. Nah, para PSK ada di dalam rumah. Satu rumah bisa belasan PSK, tapi tergantung," ujar Aril, penjaga salah satu toserba di kawasan Saritem. 
Aril menunjukan beberapa calo kepada ayobandung. Kemudian ayokpiknik berkesempatan menghampiri salah satunya agar dapat masuk ke dalam gang. Di dalam gang, nampak tidak ada perbedaan antara rumah warga dengan rumah penyedia PSK.
Calo tersebut menjelaskan bahwa setiap PSK memiliki harga yang beragam hingga mencapai Rp550.000 untuk satu malam. Tentu harga tersebut belum dengan uang sewa kamar yang rata-rata senilai Rp70.000.
Selain Saritem, ayokpiknik juga berkesempatan mengunjungi kawasan Stasiun Timur untuk melihat jejak prostitusi di daerah tersebut. Karena hari belum larut, maka pemandangan yang nampak hanyalah jajaran bus dan truk pengangkut barang.
Dulu, Stasiun Timur memang dikenal sebagai salah satu lokalisasi prostitusi alternatif di Kota Bandung selain Saritem. Dikatakan alternatif lantaran segmentasi pasarnya lebih fokus menggaet kelas menengah ke bawah. 
Namun, setelah adanya penertiban bangunan di kawasan tersebut pada tahun 2016 lalu, kini aktivitas di Stasiun Timur beranjak normal. Tetapi permasalahan baru kemudian hadir lantaran para PSK almuni Stasiun Timur kini tersebar liar tanpa lapak. 
Ada yang biasa menjajakan dirinya di Jalan Otto Iskandar Dinata maupun di sekitar kawasan Pasar Baru. Bahkan beberapa PSK mulai meninggalkan cara konvensional dan melakukan pemasaran melalui sistem daring.
Pertanyaannya kemudian, mengapa prostitusi selalu hidup? “Karena ada konsumen dan permintaan pasarnya besar,” ujar Sosiolog, Sunyoto Usman kepada ayokpiknikProstitusi dinilai sebagai bisnis menjanjikan dan para makelar bekerja sistemik dengan jaringan luas. “Kini transaksi dan aktivitasnya tidak lagi face to face, tapi juga mengandung media digital,” tambahnya.
Dilema lantas hadir karena ketika pemerintah melakukan pengetatan melalui skema penertiban berujung penutupan lokalisasi, para pelaku bisnis prostitusi justru bergerak semakin liar dan sporadis sehingga sulit dalam kontrol. Namun jika tidak dilakukan pengetatan, bukan berarti ekspansi bisnis menuju sistem digital senantiasa tidak berlangsung. 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Guru Pembual Mengajarkan Kibulan

Jrakah Payung : Wisata Sex Rumahan